Pace234 blog’s

13 5 2008

Pencari Tuhan

Diarsipkan di bawah: Pencari Tuhan — pace234 @ 5:14 am
Tags: ,

Para Pencari Tuhan

Menakar Dimensi Spiritualitas Dalam Petualangan Alam Bebas

Latar Pikir

Kedekatan dengan alam merupakan praksis para Nabi, wali, dan tokoh-tokoh besar yang telah meneguhkan nilai-nilai keagungan sepanjang sejarah manusia. Kedekatan ini mereka peroleh bukan saja dengan laku khalwat dalam pengembaraan bathin dan pikiran, tetapi pengembaraan fisik menjelajahi alam bebas merupakan bagian tak terpisahkan dari proses panjang riyadlah [1] yang mereka jalani. Mereka merupakan manusia yang paling peka dengan isyarat alam, bukan saja karena ketajaman bathin dan pikirnya, tetapi justru karena mereka secara langsung bersentuhan dengannya dalam hampir sepanjang hidupnya. Sebut saja Musa yang semasa mudanya melakukan petualangan alam bebas bersama Khaidir di daratan maupun lautan. Ibrahim melakukan hiking dan pengembaraan ribuan mil untuk memperoleh ketenangan bathinnya. Sementara Ya’qub tidak diberi gelar Israel kecuali karena dia menjelajahi gurun di waktu malam; dan Isa al-Masih , bersama-sama Yahya, adalah seorang pengembara dengan telanjang kaki menjelajahi gurun dan gua-gua di kawasan Palestina[2] Demikian juga Nabi junjungan kita , Muhammad SAW, adalah manusia yang sejak muda sampai usia tuanya selalu dinamis dengan melakukan pengembaraan dan perjalanan dalam artian harfiah dari kata ini. Puluhan ekspedisi telah beliau lakukan sepanjang hidupnya. Sdangkan dari kalangan wali dan ilmuwan Muslim, dapat disebutkan hampir semua sufi dan ilmuwan Muslim adalah pengembara dan petualang. Ibnu Arabi melakukan petualangan dengan melakukan perjalanan mulai dari Murcia Spanyol dengan melewati Maroko,Lybia, Mesir sebelum akhirnya memperoleh ketajaman penanya dalam bentuk karya monumentalnya Futuhat Al-Makkiyyah dan Fushus al-Hikam di Baghdad Irak Sementara Ibnu Batuthah, sang penjelajah sekaligus ahli geografi Muslim yang lahir jauh sebelum Marco Polo, telah melakukan petualangan darat dan laut menyusuri jalur Sutra sampai ke daratan Cina. Sungguh tradisi menjelajah dan mengembara tidak dapat dipisahkan dari tradisi keilmuan dan tasawuf Islam. Bahkan penyebaran Islam ke seluruh dunia dalam waktu kurang dari enam abad sejak kelahirannya, tidak dapat terlaksana tanpa keahlian dan ketrampilan hidup di alam bebas.

Persoalannya mengapa jiwa dan praksis petualangan alam bebas tersebut melekat pada semua jiwa agung tersebut?

1.Pemimpin Bukan Anak Mama

Pemimpin sejati jelas bukan anak mama. Seorang yang akan memimpin berarti secara sadar telah meletakkan beban lebih di pundaknya. Menyatunya kemampuan fisik, mental, kemandirian, tahan banting dan kepekaan semua fakultas dirinya merupakan syarat mutlak. Kemampuan ini jelas tidak dapat diraih dengan sekadar duduk termangu sambil mengisi pengetahuan pada tataran kognitif semata. Ia harus dilatih dan dialami secara langsung. Cara yang harus ditempuh adalah dengan berpetualang di alam bebas. Bukankah dalam batas kemampuan fisik, akan muncul kekuatan bathin yang jauh lebih dahsyat bagi bekal kepemimpinannya. Begitu juga dalam batas degup adrenalinnya , seseorang akan jujur terhadap dirinya. Sikap otentik ini merupakan sesuatu yang harus dialami, tidak dapat semata-mata diajarkan. Masih banyak hubungan antara petualangan alam bebas yang kondusif bagi terbentuknya watak kepemimpinan.

Uraian singkat inilah barangkali merupakan jawaban mengapa orang-orang besar dalam sejarah manusia adalah para petualang. Go to hell Mami’s pet!

2.Spiritualitas dan Alam Bebas

Bulan tak pernah bohong, ini judul lagunya Doel Sumbang. Tapi bukan bulan saja yang jujur, alam merupakan par-exellence kejujuran, kebeningan dan tentu saja keindahan di samping kedahsyatan. Alam juga mengajarkan kesabaran, keseimbangan dan self-sufficient[3] Prinsip-prinsip etik manusia banyak yang terinspirasi dari alam-bebas, meskipun terkadang pemaknaan realitas alam secara parsial akan melahirkan pandangan yang picik tentang hidup. Tetapi ketika alam dipahami secara organik-holistik, sebagaimana yang sejak awal dipahami oleh para mistikus Islam semisal Rumi, dan baru akhir-akhir ini disadari oleh para environmentalis, alam merupakan guru yang bijak sehingga tokoh semisal Lao Tsu, pendiri agama Tao, mendasarkan dasar-dasar ajarannya kepada alam yang semuanya mengacu kepada prinsip keseimbangan. Ya alam merupakan teman dialog yang mampu meberikan jawaban secara nyata; dan ketika dialog tersebut sampai pada titik puncaknya, alam akan membuka rahasianya sebagai ayat, tanda-tanda kebesaran Tuhan yang tidak mungkin lagi diingkari kebenarannya.Alam bebas memang material, tetapi kekayaannya akan warna ,dimensi, bentuk, dan daya hidup kala disentuh dan didekap dengan keseluruhan cinta, maka dia menjadi pelangi yang mengantarkan sang petualang (sekaligus) pertapa tersebut untuk mampu menerobos gelapnya materi kepada cahaya ruhani,

Uraian ini jelas mencoba mempengaruhi pembaca kepada simpulan bahwa alam bukan saja lokus, tetapi dia adalah perspektif sekaligus praksis kearifan yang menjadi patner setiap jiwa-jiwa agung untuk lebih jauh lagi mencapai pencerahan spiritualnya. Siapa berani mencoba mendaki lebih tinggi lagi?!

3.Melampaui Keremehan

Jelas nama-nama yang disebutkan di atas bukanlah manusia remeh. Kebesaran mereka bukan saja terletak pada besarnya adrenalin yang mereka punya dengan melakukan petualangan di alam bebas, tetapi justru karena visi yang mereka usung setelah mereka kembali dari pengembaraannya. Sungguh mereka bukanlah turis yang hanya puas melihat. Petualangan para jiwa agung tersebut membawa mereka pada satu keyakinan bahwa kehidupan , di mana alam merupakan lokus sekaligus penopangnya, terlalu berharga untuk disia-siakan oleh kebodohan manusia. Pernyataan serius ini perlu dikemukakan sebab terkadang keindahan dan kedahsyatan alam bebas tersebut menjadikan sang petualang terkagum-kagum dan berhenti pada sikap sebagai penikmat. Tentu saja sikap ini wajar-wajar saja. Tetapi sikap ini menjadi tidak wajar ketika sumber yang menjadi kekagumannya dirusak, diperkosa, dan diobral , dia cuek-bebek. Seperti guyonan para pemanjat ketika mereka melihat tebingnya dijual kiloan tuk diambil batunya, yang mereka lakukan hanyalah memanjat-kan doa. Sungguh keremehan melekat pada diri seseorang ketika sumber cintanya dirampas , tetapi dia pura-pura tidak merasakan kepedihan. Pengingkaran diri hanyalah nama lain dari pengecut; dan untuk itulah kita mengutuk hedonisme sebab ia hanyalah sebuah kepura-puraan dan ketidakpedulian.

Sungguh petualangan alam bebas merupakan bekal bagi sang petualang untuk memiliki pemahaman, kepekaan dan pada akhirnya kepedulian kepada sang kekasih; dan bentuk kepedulian yang paling nyata adalah tindakan.. Bukankah kita secara fasih memperkenalkan diri kita sebagai sang Pecinta Alam. Santai Choy, ini muhasabah!

4.Wiridan Baru: Perang dan Perang

Saya tidak perlu lagi bercerita tentang tingkat kerusakan alam yang semakin menjadi-njadi sejalan dengan meningkatnya kebodohan dan keserakahan manusia (baca: kapitalis, pemerintah buruh kapitalis; dan para ilmuwan pelacur yang mengamini perusakan lingkungan hidup justru dengan dalih keilmuan). Saya sadar bahwa keadaan tidaklah mudah, bahkan kecenderungannya semakin sulit. Sering saya katakan bahwa menjadi pejuang lingkungan berarti meletakkan Semeru di pundak sambil tetap berusaha cemoro tunggalnya tidak rusak. Kita para petualang alam bebas adalah jiwa-jiwa yang merindukan kedamaian. Tetapi terkadang perang harus menjadi pilihan . Saya tidak melihat orang atau komunitas lain untuk menjadi martyr dalam perang yang akan berlangsung dalam jangka yang sangat lama dan bahkan tidak menentu kapan brakhirnya ini kecuali kepada mereka yang pernah merasakan kelembutan dekapan alam bebas. Biarlah sesaat yang mengungkapkan kesejatian tersebut kiranya cukup bagi kita sebagai bekal . Kalian- para jiwa bebas sudah sewajarnya menjadi manusia yang memiliki kepekaan lebih dibanding yang lain, karena kalian telah bersentuhan dengan alam melebihi orang lain.

Saya tidak melihat kemungkinan lain di negeri ini untuk mempertahankan secuil cinta kita yang masih ada kecuali dengan perang. Ya perang dalam artian yang sesungguhnya. Jika kita memang masih berharap dapat mencium bau sorga, maka pekikkan PERANG terhadap setiap upaya terorganisir dan terencana bagi pemusnahan rumah kehidupan kita. Kemenangan bukanlah segalanya dalam rangkaian panjang eksistensi yang selalu dalam proses menjadi. Tetapi yang menjadi taruhan adalah cara berada itu sendiri. Bagaimana cara berada kita sebagai wujud bahwa kita eksis itulah yang menetukan kita ini remeh atau tidak. Inilah cara kita menakar dimensi spiritualitas dari pengembaraan dan petualangan alam bebas kita. Dan inilah cara kita melampaui keremehan hidup yang terperagakan di setiap sudut kehidupan termasuk di pojok-pojok kampus kita. Ayo cepat packing, ini perang Bung!


[1] Dalam bahasa Arab kata riyadlah bermakna olahraga, tetapi yang menarik para mistikus Islam juga meyebut praktik pelatihan jiwa mereka dengan riyadlah.

[2] Dr.Athaur Rahim, Misteri Jesus Dalam Sejarah,terj.Masyhur Abadi, (Surabaya,Pustaka Progresif,1995),h.75.

[3] Prinsip kecukupan diri inilah yang menjadikan sikap perkemi manusia dengan developmentalismenya justru akan merusaknya.

Blog pada WordPress.com.